Jalan-Jalan Keliling Gunung Kelimutu dan Kampung Wologai

Perjalanan spontan kali ini terjadi ketika ada long weekend sekitar akhir November kemarin, kenapa spontan, karena meski ide tentang perjalanan ke lokasi ini sudah lama, namun tidak ada realisasi yang berarti hehe… Hingga akhirnya di hari Kamis itu (karena long weekend nya libur di hari Jumat-Sabtu-Minggu) saya secara iseng menginfokan kedua teman saya yang juga rekan kerja disini (read: Ruteng, lokasi kerja saya) untuk nge-trip bareng ke Ende demi agar bisa melihat Danau Tiga Warna Kelimutu yang terkenal itu, awalnya sih ada yang ragu bukan karena apa, tapi ya apa lagi, tiket pesawat masih gambling mahal enggaknya, dan no way kita perjalanan darat dari Ruteng ke Ende karena tepos bokk bokong (perjalanan 8 jam one way dengan jalan yang berliuk-liku tipikal Flores). Akhirnya setelah “memberanikan” diri cek tiket pesawat, kejutan lain datang, ta-daaaa! Cukup murah! Kami cek untuk harga termurah which is dapat dari maskapai Wings Air berangkat dari Labuan Bajo (karena jadwal penerbangan lebih banyak) menuju Ende 450k untuk berangkat, dan balik ke Labuan Bajo lagi hanya 200k (berasa naik bus banget gak tuh), dengan total 650k per person cukup reasonable lah dengan naik pesawat, tanpa pikir panjang… Booked return tickets Labuan Bajo – Ende PP 🙂

Day 1

Berangkat dari Ruteng, kota tempat saya bekerja, otw ke Labuan Bajo 3 jam perjalanan darat, sampai di bandara sempat deg-degan juga karena kami berangkat tepat disaat pasca Gunung Agung erupsi sekitar 3 harian, ada perasaan was-was bahwa perjalanan ke Ende akan delay parah atau (lebih) parah — cancel. Namun syukurlah, setelah (akhirnya) delay juga satu jam, pesawat berangkat ke Ende…

Sesampainya di Ende, karena kita sudah ada driver jadi tak perlu khawatir langsung cuss kita ke Moni — Moni adalah daerah terdekat yang bisa kita singgahi disana sekitar 1,5 jam dari kota Ende dan 30 menit ke Kelimutunya jika dari Moni. Setelah sampai Moni, kesan pertama meski ada di kaki gunung adalah — wow sejuk haha, biasa di Ruteng dengan suhu bisa drop hingga 15 derajat Celcius, di Moni suhu cukup “stabil” sekitar 19-20 derajat Celcius which is nothing for us lol.

Bermalam di Moni, kami mendapatkan hotel dari situs booking online tiba sekitar pukul 9 malam disana dengan harga hanya 150.000 Rupiah saja permalam sudah dengan air panas kamar luas dan cukup lah pokoknya.. (hingga akhirnya 3 jam kemudian…) zonk pertama terjadi, MATI LAMPU, dan itu terjadi hingga Subuh saat kita berangkat. Hmm.. Alhasil, seperti ‘sudah kuduga’ moment, gak mandi pagi dan cusss ke Kelimutu.

Day 2

Berangkat ke Kelimutu kami disuguhi pemandangan yang spektakuler sewaktu proses naik ke parkiran puncak, naik kesana cukup simpel karena jalan sudah bagus untuk dilalui mobil hingga parkiran atas akhir dimana kita harus jalan kaki sekitar 30 menit. Jangan khawatir, semua fasilitas sudah tertata baik dan rapi, sedang untuk karcis masuk dengan mobil juga amat sangat terjangkau. Kami hanya perlu membayar sekitar 35 ribu Rupiah sudah termasuk 4 orang dan mobil saat itu.

Sesampainya di Danau Kelimutu yang terkenal itu, meski terkesan agak lebay kali ya, tapi speechless karena memang indah sekali kawan-kawan, dinginnya pas, dan pesona danaunya juga indah sekali. Ada 3 danau di Kelimutu, detilnya bisa dicari di mbah Google ya hehe, tapi yang jelas meski di uang kertas 5000-an jaman baheula kita itu Danau kelimutu tampak seperti 3 danau dan memang 3 danau kalau dilihat dari atas, ketika kita berjalan di Kelimutu kita hanya bisa melihat satu spot di dua danau antara tiga yang bersebelehan tadi, dan satu spot lainnya untuk satu danau sisanya. Gampangnya, biar agak gak mumet dikit, jalan 30 menit ada dua danau bersebelahan, nah danau satunya ini perlu jalan lagi 20 menit ke arah berbeda. Ngerti kan maksud saya? Ya begitu lah yaa.. wkwk. Tapi suer, indah dan worth it untuk foto maupun hanya sekedar menikmati pemandangan.

DSCF0289
Danau Yang Agak Misah Sendiri

 

DSCF0304
Dua Danau Yang Bersebelahan

Banyak pedagang kaki lima disekitar Kelimutu yang menjajakan souvenir dan makanan disana, jadi tidak perlu khawatir, bahkan akses ke dua danau sudah dibuatkan tangga yang apik dan layak untuk didaki sedangkan satu danau lainnya hanya bisa dilihat dari agak kejauhan meski akses ke puncak terdekatnya juga sudah terbangun dengan rapi. Pokoknya buat kawan travelers yang agak manja ogah repot cus dah kesini dijamin tak akan ada halangan yang berarti. Oh ya, disini juga ada sisa perumahan Belanda yang katanya dulu dibuat untuk berwisata atau benteng atau apalah tidak terlalu jelas infonya, simpang siur, untuk menuju kesana kita perlu sekitar 20 menit ke arah berlawanan dari arah Kelimutu. Kita akan dibawa ke arah hutan pinus yang rindang dan harus turun sekitar 200meter untuk melihat rumah Belanda yang dalam benak awal saya masih bagus tertata — ternyata hanya puing-puing. Believe me or not, entah karena suasana hujan rintik atau apa ya kawan, tapi suasana di tempat ini mistis banget, jauh lebih mistis dari Danau Kelimutu yang katanya tempat berkumpulnya arwah. Benar-benar berkabut, lembab, di puing-puing rumah yang terhampar di tanah sekitar setengah hektar. Kami tidak berani turun sampai benar-benar ke area, hanya di anak tangga yang sekedar membuatnya tampak puing-puing bangunannya, karena serem kali ya, ditambah sama cuma kita bertiga aja yang emang turun kesana waktu itu. Penasaran sih tapi biarlah, kalau ada pembaca yang sudah kesana dan nengok-nengok hingga kebawah monggo diinfokan ke saya.

Overall, trip ke Danau Kelimutu asik dan sangat worth it, love every seconds of it, and if you have the chance to go — just go.

Lanjut ya kawan-kawan, kali ini dalam perjalanan pulang kita ke kampung adat sekitar terdekat dari lokasi Kelimutu, Kampung Wologai, lumayan lah jika ingin melihat masyarakat sekitar yang masih hidup di suasana tradisional atau setidaknya mempertahankannya. Penampakannya terlampir:

Terdapat kopi asli yang ditumbuk warga sekitar, jadi oke saja untuk membeli disana sekaligus membantu warga sekitar, bea masuk seikhlasnya sudah dibuatin warga semacam kotak amal gitu, dan orang-orang Wologai ini ramah-ramah, top dah pokoknya. Just like typical about Flores people that I loved. Oh wait, with their authentic neighborhood in this case for sure 🙂

Sudah ke Kelimutu, sudah ke Wologai, what’s next? Balik kawan lelah Barbies, eh ternyata hotel masih mati lampu, settdahh, kami sampai hotel pukul 10 pagi dan akhirnya amat sangat pingin untuk segera check out. Tumben kan di ‘hotel’ loh ya wkwk…

Back to kota Ende kita menginap di basecamp tempat kantor kami bekerja, niatnya pingin lanjut lihat wisata di kota Ende, tapi tak sempat, ngorok sampai paginya, so bhay kota Ende until next time.

Day 3

Flight jam 7.30 pagi, jam 6 cusss kita ke bandara di Ende dan kembali ke… Bukan Bajonya yang jadi highlight, tapi realitanya. WORK WORK WORK (Hari Seninnya). Hehe. But yeah, once again, what a fantastic long weekeng getaway, at least bikin kepala fresh lagi. Sekian dan semoga memberi gambaran meski hanya sedikit wkwk.

 

MH

18012018

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s